Thursday, July 22, 2010

skripsi bab 1 Mengapa belajar itu penting

BAB I
PENDAHULUAN 

1.1.  Latar Belakang Masalah
Manusia sebagai mahluk sosial tentunya memerlukan orang lain dalam setiap aktivitas sehari-hari. Aktivitas tersebut di dapat dari proses belajar yang di mulai dari masa kecil yang memperoleh keterampilan dan kemampuan dari si ibunya. Kemampuan belajar sangat penting yang membedakan jenis mahluk yang lain.
Belajar memberikan manfaat bagi individu dan juga masyarakat. Bagi individu, belajar secara terus menerus memberi sumbangan bagi pengembangan berbagai ragam gaya hidup. Belajar juga memainkan peranan penting dalam penerusan kebudayaan berupa kumpulan pengetahuan ke generasi baru.
Orang sebagai individu dan masyarakat mempunyai kepentingan agar berhasil dalam mengelola belajar. Orang-orang yang sudah terampil belajar mandiri mampu menguasai berbagai keterampilan untuk mengisi waktu senggang dan melakukan pekerjaan baru.
Hal ini sangat penting dalam upaya mengembangkan kreativitas dan pemikiran agar mencapai tujuan yang diinginkan. Karena itu belajar harus terus menerus dan tidak tidak pernah terputus oleh berbagai hambatan yang ada baik waktu maupun usia.
1.2.  Rumusan Masalah
1.      Mengapa belajar itu penting ? sebutkan definisi belajar dan jelaskan menuiruit saudara tentang belajar (buku, pengarang dan halaman)
2.      Jelaskan apa yang dimaksud dengan pengetahuan tentang belajar.
3.      Sebutkan 4 asumsi dasar dan urgensinya dalam penerapan CBSA dan bagaimanakah peranan CMGA dan CBSA.
4.      Apa yang dimaksud dengan :
  1. Learning to learn
  2. Learning to do
  3. Learning to be
  4. Learning know
  5. Learning to life together
5.      Melalui proses pengembangan yang bagaimanakah agar melahirkan prilaku baru yang disebut kreativitas.








BAB II
PEMBAHASAN DAN HASIL

2.1.    Pentingnya Belajar dan Definisi Belajar
Kemampuan orang untuk belajar ialah ciri penting yang membedakan dari jenis-jenis mahluk yang lain. kemampuan belajar itu memberikan manfaat bagi individu dan juga masyarakat. bagi individu kemampuan untuk belajar secaa terus menerus memberikan sumbangan bagi pengembangan berbagai ragam gaya hidup.
Bagi masyarakat, belajar memainkan peranan penting dalam penerusan kebudayaan berupa kumpulan pengetahuan ke generasi baru.
Definisi Belajar
1.      Belajar adalah aktivitas yang menghasilkan perubahan pada diri individu yang belajar, baik aktual maupun potensial.
2.      Belajar adalah aktivitas pengembangan diri melalui pengalaman, bertumpu pada kemampuan diri belajar di bawah bimbingan pengajaran.
3.      Belajar adalah suatu modifikasi/memperteguh kelakuan melalui pengalaman.
4.      Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan
5.     
3
 
Belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri organisme (manusia atau hewan) disebabkan oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkah laku organisme tersebut.
6.      Belajar adalah suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara prograsif.
7.      Belajar adalah sebagai aktivitas pengembangan diri atau tahap perubahan perilaku siswa yang relatif positif dan menetap sebagai hasil interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif.
8.      Belajar adalah upaya perubahan tingkah laku dengan serangkaian kegiatan atau kegiatan psikofisik menuju ke perkembangan pribadi seutuhnya.
9.      Belajar adalah suatu upaya yang bersumber dari kebutuhan dan tujuan siswa.

2.2.    Pengetahuan Tentang Belajar
Sumber-sumber pengetahuan tentang belajar dapat dikenal adanya beberapa sumber. Termasuk disini adalah foklor/cerita rakyat dan kearifan yang sudah menjadi tradisi, filsafat, penelitian, empirik dan teori belajar.
a.       Kearifan Tradisi
Kearifan tradisi ialah peribahasa atau maksim yang sering berasal dari pengalaman yang luas. Contoh : maksim adalah “Spare the rod and spoil the child” (jangan memanjakan anak).
Hilgard (1964 : 404) mencatat bahawa ada beberapa kalangan yang membela pendapat bahwa mengajar itu suatu kiat. Karena itu, lebih banyak yang dapat dipalajari dari guru-guru yang baik berkembang dari penelitian atau spikologi. Dengan kata lain, praktek mengajar yang baik merupakan suatu kearifan tradisi yang dapat mengajar orang lain.
b.      Filsafat
Tidak seperti halnya foklor atau kearifan tradisi yang cenderung longgar organisasinya, para ahli filsafat telah mengembangkan pandangan yang sistematik tentang belajar
c.       Penelitian Empirik
Sumber informasi yang agak berbeda tentang hal belajar adalah penelitian empirik, mencakup eksperimen tentang objek-objek dan gejala-gejala dalam dunia fisik. Galileo yang sering disebut bapak metode ilmiah, merintis eksperimentasi menggunakan benda nyata. Dalam satu eksperimen, ia mengitung waktu turunnya benda yang jatuh dari puncak menara yang sama seperti jatuhnya satu pon timbal. Percobaannya itu menyangkal kepercayaan intutif bahwa satu pon timbal akan jatuh lebih cepat daripada sekarung bulu yang beratnya sama.
Kesulitan penggunaan penelitian empirik sebagai satu-satunya sumber pengetahuan ialah bahwa studi-studi yang dilakukan itu tidak dengan sendirinya memajukan pengetahuan kita tentang fenomena-fenomena yang penting. Sebagai contoh, Susppes (1974) melukiskan masa dalam penelitian pendidikan yang disebut sebagai “zaman keenam empirisme”. Masa ini, dasawarsa 1920-an disifatkan oleh penggunaan kuwsioner, survei dan penyelidikan-penyelidikan mengenai hampir setiap segi kehidupan sekolah. Namun, pengumpulan data yang luas ini tidak memberikan sumbangan pada pemahaman kita tentang proses dasar belajar dan pembelajaran.

d.      Teori Belajar
Teori adalah seperangkat asas yang tersusun tentang kejadian-kejadian tertentu dalam dunia nyata. Satu ciri teori yang penting adalah bahwa teori itu membebaskan penemuan penelitian secara individual dari kenyataan kesementaraan waktu dan tempat untuk digantikan dengan suatu dunia yang lebih luas (McKeachie, 1976 : 829).
Secara khusus teori memberikan dua kelebihan
  1. bahwa asas itu tidak seperti halnya maksim dapat di uji
  2. tidak seperti hasil pengamatan yang terlepas-lepas.
Keuntungan teori yang kedua ialah bahwa tidak seperti pengamatan yang terlepas-lepas.

2.3.    Empat Asumsi Dasar dan Urgensinya dalam Penerapan CBSA dan Peranan CMGA dan CBSA.
4 asumsi dasar dalam penerapan CBSA :
1.      Asumsi mengenai pendidikan
2.      Asumsi mengenai anak didik
3.      Asumsi mengenai guru
4.      Asumsi mengenai proses pengajaran

Urgensi dalam penerapan CBSA :
1.      Kecepatan perkembangan ilmu pengetahuan menuntut perubahan cara mengajar yang dilakukan guru
2.      Peserta didik lebih menghayati hal-hal yang dipelajari melalui percobaan atau praktek langsung
3.      Kreativitas peserta didik perlu dibina terus menerus agar pendidikan sejejar dengan pendidikan lain.
4.      Perbedaan pengembangan berbagai aspek terlibat dalam proses belajar dapat diatasi dengan baik
5.      Melalui pendekatan CBSA fisik, mental, terlibat dalam proses belajar mengajar membantu perkembangan peserta didik menjadi manusia seutuhnya.
Peranan CMGA dan CBSA
Di dalam penerapan pendekatan CBSA harus disertai dengan pendekatan CMGA (Cara Mengajar Guru Aktif). Penerapan kedua pendekatan ini akan membuahkan situasi pengajaran yang lebih menggairahkan di anatra guru dan peserta didik dalam belajar mengajar, dan memungkinkan hasilnya optimal.
Peranan CMGA dan CBSA dapat dinyatakan, bahwa guru dalam pengajaran harus menempatkan diri sebagai :
1.      Pemimpin dalam kegiatan belajar
2.      Fasilitator dalam proses belajar
3.      Moderator belajar
4.      Motivator dalam kegiatan belajar mengajar
5.      Evaluator dalam kegiatan belajar mengajar

2.4.    Beberapa istilah dalam Belajar
a.       Learning to learn
Dalam kegiatan belajar mengajar kepada peserta didik hendaknya diberikan hal tentang apa yang harus dipelajari namun lebih penting adalah bagaimana mempelajarinya dan tentang bagaimana corak belajar.
b.      Learning to do
Peserta didik dalam belakar juga melakukan kegiatan artinya ia harus terlibat langsung dalam kegiatan di lapangan.
c.       Learning to be
Peserta didik diharpkan setelah menempuh proses belajar menjadi seorang yang mandiri sesuai keahliannya, misalnya menjadi seorang guru/seorang dokter.
d.      Learning to known
Peserta didik diharapkan dalam melakukan proses belajar menjadi tahu apa yang sudah dipelajari dan bisa mengamalkannya.
e.       Learning to life together
Peserta didik diharapkan bisa belajar untuk hidup bersama-sama dilingkungan masyarakat dan beradaptasi dengan mereka.
2.5.    Proses Pengembangan yang Melahirkan Prilaku Baru yang disebut kreativitas
Yang memadukan dan mengembangkan secara utuh semua domain dasar dalam diri peserta didik yaitu domain kognitif, afektif dan psikomotor. Proses pengembangan ketiga aspek secara utuh dan berarti ini akan melahirkan bentuk prilaku baru yang disebut kreativitas.
Secara ilustratif dapat digambarkan sebagai berikut :










Share this article :